Air Mata Cardozo

Oscar Cardozo merasa sangat bersalah. Pemain Paraguay ini menilai dirinya berandil besar dalam kekalahan negaranya di perempatfinal melawan Spanyol. Hanya ada satu kalimat baginya: jangan menyerah Cardozo.

Selasa, 29 Juni 2010. Ketika itu Oscar Cardozo melangkah mantap ke kotak penalti. Berdiri di hadapannya Eiji Kawashima, penjaga gawang Jepang.

Setelah mengambil ancang-ancang, Cardozo kemudian melepaskan eksekusi. Kawashima terkecoh, Jabulani masuk gawang Jepang dan tiket perempatfinal menjadi milik Guaranies. Paraguay melaju berkat kemenangan 5-3 di babak adu penalti.

Minggu, 4 Juli 2010 dinihari WIB. Striker milik klub Benfica itu berkesempatan untuk kembali menjadi pahlawan Paraguay. Kembali lewat titik putih, kali ini dalam waktu normal, pemain Benfica itu menghadapi kiper Spanyol Iker Casillas.

Malang bagi Cardozo. Eksekusinya bisa digagalkan oleh kiper Real Madrid itu. Di akhir pertandingan, Paraguay akhirnya harus menyerah dari tim Matador. Wakil Amerika Selatan itu harus melupakan mimpinya untuk menggapai semifinal Piala Dunia.

“Saya merasa sedikit bersalah karena gagal penalti. Andai itu gol, mungkin ceritanya bakal berbeda,” sesal Cardozo seperti dilansir dari Associated Press.

Pasca kegagalan itu, wasit balik memberikan Spanyol penalti. Cardozo langsung sangat merasa kecewa. Ia sempat berlutut di lapangan dan harus diberi semangat oleh striker Nelson Valdez.

“Saya mengatakan padanya: jangan putus asa. Pertandingan masih belum selesai dan masih banyak kesempatan,” ujar Valdez.

Ketika Xabi Alonso mengeksekusi penalti, Cardozo menundukkan kepala. Namun pemain kelahiran 20 Mei 1983 itu mulai bersemangat lagi ketika wasit meminta penalti diulangi. Di kesempatan kedua, upaya Xabi bisa digagalkan kiper Justo Villar. Sontak saja Cardozo langsung berlari ke arah Villar dan bergembira.

Namun justru Spanyol yang bisa memanfaatkan sisa waktu yang ada. Satu gol David Villa membawa La Furia Roja menang 1-0 sekaligus menamatkan mimpi Paraguay.

“Kami bermain bagus. Yang kurang dari kami adalah kami tidak memanfaatkan kesempatan yang didapat. Saya gagal penalti dan saya masih tidak percaya. Yah, beginilah sepakbola. Kita hanya bisa berusaha dan terus berjuang,” ujar Cardozo yang matanya masih merah karena menangis.

Dari pahlawan, Cardozo sudah menjadi pesakitan. Namun terlalu kejam bila menimpakan kesalahan hanya kepada striker yang berseragam timnas Paraguay sejak tahun 2007 itu.

Tidak ada celaan yang datang kepadanya. Yang ada hanyalah simpati yang mengalir. “Inilah sejarah sepakbola. Ini bisa terjadi. Penting baginya agar tidak merasa bersalah,” ujar pelatih Gerardo Martinez.

“Tidak ada seorang pun yang akan menyalahkannya. Di sepakbola, bahkan pemain paling hebat sekali pun bisa gagal penalti,” timpal striker Roque Santa Cruz.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: